SIFAT BANGSA

                     

Konon, di dunia ini ada 4 macam sifat bangsa :

1) Sedikit bicara, sedikit kerja (Nigeria, Angola).

2) Sedikit bicara, banyak kerja (Jepang, Korsel).

3) Banyak bicara, banyak kerja (Amerika, China).

4) Banyak bicara, sedikit kerja (Pakistan, India).

Seseorang bertanya : "Kalau bangsa Indonesia, masuk yg mana Bro..??"

Mas Bro : "Tidak bisa dimasukkan di antara yg empat itu..."

"Lohh...Kenapa Bro..??"

Mas Bro : "Karena di Indonesia, antara yg dibicarakan dan yg dikerjakan beda..."

PSSI Ganti Nama

Mestinya kita punya PSSI BARU yg sama sekali berbeda dari sebelumnya, baik organisasinya, pola manajemennya, konsep pembinaannya, maupun orang-orang yang mengurusnya.
-->
Kalau mau peringkatnya naik secara signifikan jangan orang yang "tahu bola" yg mengurusnya tetapi orang yang "tidak tahu bola ala Indonesia selama ini" tetapi pandai manajemen yang mengurus PSI = Persatuan Sepakbola Indonesia.

Ayo para Menteri, MENGAMUKLAH!

Dahlan Iskan ngamuk, begitu komentar seorang pagi-pagi hari selasa yang lalu. Mendengar itu saya langsung cari tahu berita sebenarnya. Ternyata memang benar sang menteri BUMN itu membuang kursi di 2 loket pintu tol Semanggi Jakarta karena kosong tak berfungsi padahal antrean panjang, lebih dari 30 kendaraan.
Foto Kasubag Humas Kementerian BUMN Faisal Halimin 


Ngamuknya pak menteri ini sebenarnya sudah saya tunggu-tunggu dari dulu, karena saya sendiri setiap pagi pengin ngamuk seperti itu setiap kali mau masuk/keluar pintu tol karena selalu ada saja pintu yang tidak difungsikan. Macam-macam alasannya, kalau pagi katanya petugas belum datang, kalau siang sedang istirahat makan siang, kalau sore sedang sholat dan macam-macam alasan lain. Gusar saya semakin menjadi-jadi karena Jasa Marga ternyata rajin sekali membuat loket-loket baru meski nantinya tidak difungsikan semua (maklum, proyek bro..).


Nah dalam suatu diskusi pernah seorang direktur BUMN urusan jalan tol ini berkata kalau tidak mudah merubah budaya karyawannya untuk masuk lebih pagi dari jam 06.00 ke jam 05.00 pagi. Tampak si direktur inilah yang perlu dirubah paradigmanya alias dicopot saja. Sulit bukan berarti tidak bisa..pak direktur! 


Kenapa saya berkata begitu?



Pertama, pekerjaan di loket tol itu bukanlah pekerjaan yang menuntut kompetensi tinggi dan langka dimiliki orang Indonesia. Ada jutaan rakyat Indonesia yang siap menggantikan mereka setiap saat, boss! Kalau mereka tidak perform ya copot dan gantikan dengan rakyat lain yang lebih sigap dan rindu pekerjaan.


Kedua, Sang direktur ini lupa bahwa budaya bisa dirubah melalui sistem yang tegas, konsisten dan powerful. Anda punya power sebagai direktur, buat sistem (aturan + kebijakan) dan lakukan dengan tegas. Brebes! eh beres!


Jadi kalau ente bilang itu sulit, pensiun saja anda dari direktur operasional, eh keceplosan (jabatannya kesebut)!


Nah...
Ngamuknya sang menteri ini patut dicontoh oleh para menteri yang lain atau para petinggi negeri ini. Lho!?? 


Lha iya, kalau bukan para petinggi yang ngamuk pasti tidak akan digubris oleh para pengelola yang bersangkutan. Kita cuma bisa menelan ludah menahan gusar melihat begitu banyaknya hal-hal tak becus terjadi di sekeliling kita tapi dibiarkan berjalan terus. Mau contoh?


Para pengemis dan anak-anak jalanan berkeliaran di perempatan jalan, dan menteri sosial diam membuta mata. Pedagang kaki lima tidak menyisakan sejengkal tanah untuk pejalan kaki dan menteri (PU atau Perhubungan?) diam saja kura-kura dalam mobil, eh dalam perahu! Dan sejuta contoh lain di segala bidang kehidupan kita.


Ayo para menteri, MENGAMUKLAH! 
Jangan cuma bisa nongkrong di kantor pura-pura tidak tahu kebobobrokan di wilayah tugas anda. Jangan biarkan rakyat yang ngamuk, nanti anarki jadinya.

Mentalitas Partner in Crime


Mungkin anda termasuk orang yang telah muak dengan segala kebobrokan moral yang terjadi disekitar anda, terutama yang berkaitan dengan keserakahan harta duniawi sehingga menghalalkan cara untuk mendapatkannya. Celakanya, yang dulunya haram kini telah bergeser menjadi hal yang biasa kita lakukan tanpa pernah mempertimbangkannya lagi benar dan salahnya. 

Menyuap atau menyogok dalam berbagai urusan telah menjadi hal yang wajar, bahkan kini malah masyarakatlah yang berinisiatif untuk memulainya biar urusan jadi lancar katanya. "Daripada menunggu nggak puguh, mendingan nyogok aja", begitu sering kita dengar. Tanpa sengaja kita telah bersekongkol dan berkawan akrab dengan kejahatan. Lihat saja bagaimana orang mengurus KTP. Mana ada yang tidak pakai uang pelicin, dan semuanya merasa hal itu wajar dan baik-baik saja. Sungguh kita memang telah berkawan dengan setan.

Anggota DPR yang tidak terhormat (meski mereka selalu ingin disebut dengan yang terhormat), dan para petinggi pemerintah bergumul dan bergelimang dengan kekotoran sogok menyogok bin suap menyuap, dan merasa hal itu jamak-jamak saja.

Mentalitas Partner in Crime adalah sikap batin yang bersahabat dengan kejahatan. sadar ataupun tidak. Mungkin anda belum melakukan tindak kejahatan secara langsung, tetapi jika kita mentolerir kejahatan itu terjadi di depan mata berarti kita pun telah memiliki mentalitas bersekongkol dengan kejahatan.

Nah, jika anda memiliki kisah yang berkaitan dengan itu, silakan sharing di blog ini dan kita diskusikan. semoga bisa menjadi ajang refleksi diri agar tidak terlanjur menjadi penjahat tanpa menyadarinya. Aatau bisa kembali ke jalan yang benar sebelum kembali ke alam baka.

Anggota DPR Tuna Sila

Menyambut hari lahir Pancasila tahun 2010 ini sebuah stasiun tv (Trans 7) mewawancarai beberapa anggota legislatif dalam acara nasional peringatan hari kelahiran Pancasila, dengan pertanyaan tentang bunyi masing-masing sila. Anda mau tahu hasilnya?
Menyedihkan sekaligus menyakitkan hati, karena banyak diantara mereka yang tidak hafal atau terbolak balik urutannya. Termasuk di dalamnya ada Tantowi Yahya, Dedi "Miing" Gumelar, dan bahkan yang sangat parah Puan Maharani yang mesti bertanya kiri kanan dulu untuk menjawab. Cucu proklamator dan sekaligus pencipta Pancasila itu terkesan tidak pernah menghafalkan Pancasila dengan sungguh-sungguh. Tragis dan menyedihkan!

Tak ada alasan bagi para anggota DPR itu untuk berkilah "out off memory" karena mereka baru saja mengikuti acara peringatan hari lahirnya Pancasila. Logikanya di dalam sana ada butir-butir Pancasila atau paling tidak aroma Pancasila yang kental. Jelas, tak ada sikap respek mereka terhadap falsafah bangsa yang menjadi pondasi negara ini.

Lebih tragis lagi, tugas mereka adalah membuat produk hukum bagi bangsa ini dan Pancasila adalah sumber dari segala sumber hukum, yang menjadi acuan utama serta tak boleh bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila.

Jadi, jangan terlalu berharap.....

Lanjutkan Dengan Lebih Cepat

Kali ini saya boleh berbangga hati sebagai warga Indonesia! Kita bisa menjadi bangsa beradab dengan melaksanakan 2 kali Pemilu Langsung dalam satu tahun dengan aman dan damai, meski masih pula dinodai oleh teror bom di Ritz Carlton dan JW Marriot yang biadab itu.

Banyak prestasi dan hal-hal fantastis dari fenomena Pesta Demokrasi itu, tetapi yang paling penting menurut saya, kita telah maju dan mampu belajar berdemokrasi dengan lebih beradab. Meskipun disana-sini masih terjadi kekurangan dan (mungkin) kecurangan, tetapi tidak prinsipil dan siknifikan.

Kalau mau dicatat yang negatif justru sikap para pemimpin yang ikut kontes akbar itu. Mereka tampak sangat sulit dan belum bisa bersikap lapang hati, malah ngomporin rakyat, memanas-manasi hati rakyat meributkan dan mengganggu ketenangan. Eiit, jangan mengira saya pro yang menang lho!

Saya cuma mau bilang, ada juga hal yang bisa membuat saya bangga jadi orang Indonesia yang hidup di era informasi world 2.0 ini. Dibanding dengan negara berkembang lainnya, kita lebih maju soal demokrasi, termasuk dibandingkan dengan Malaysia.

Pelajaran berikutnya adalah membangun sinergi dari perbedaan (building on differences), bukan berjalan sendiri-sendiri. Belajar dong dari Obama vs Hilary!

Memang benar SBY tentu tidak bisa LANJUTKAN tanpa JK, karena hanya akan menjadi LANUTAN. Karena itu kenapa tidak berbagai aset bangsa yg berbeda-beda kita kita kelola untuk menghasilkan sinergi. Apa gunanya hanya sampai pada menghormati perbedaan dan lalu berjalan sendri-sendiri?

Karena itu usul saya, semua yang bersaing kini saatnya menyatukan perbedaan (bukan menyamakan lo!) dan ayo kita jadikan semboyan "LANJUTKAN DENGAN LEBIH CEPAT!"

Heheheee, asal tahu saja, ini syaratnya harus memiliki sikap bathin Abundance Mentality alias Mentalyang berlimpah alias lapang hati bin legowo! Bisa gak sih??!

NO Mental KERE! Please?