Ayo para Menteri, MENGAMUKLAH!

Dahlan Iskan ngamuk, begitu komentar seorang pagi-pagi hari selasa yang lalu. Mendengar itu saya langsung cari tahu berita sebenarnya. Ternyata memang benar sang menteri BUMN itu membuang kursi di 2 loket pintu tol Semanggi Jakarta karena kosong tak berfungsi padahal antrean panjang, lebih dari 30 kendaraan.
Foto Kasubag Humas Kementerian BUMN Faisal Halimin 


Ngamuknya pak menteri ini sebenarnya sudah saya tunggu-tunggu dari dulu, karena saya sendiri setiap pagi pengin ngamuk seperti itu setiap kali mau masuk/keluar pintu tol karena selalu ada saja pintu yang tidak difungsikan. Macam-macam alasannya, kalau pagi katanya petugas belum datang, kalau siang sedang istirahat makan siang, kalau sore sedang sholat dan macam-macam alasan lain. Gusar saya semakin menjadi-jadi karena Jasa Marga ternyata rajin sekali membuat loket-loket baru meski nantinya tidak difungsikan semua (maklum, proyek bro..).


Nah dalam suatu diskusi pernah seorang direktur BUMN urusan jalan tol ini berkata kalau tidak mudah merubah budaya karyawannya untuk masuk lebih pagi dari jam 06.00 ke jam 05.00 pagi. Tampak si direktur inilah yang perlu dirubah paradigmanya alias dicopot saja. Sulit bukan berarti tidak bisa..pak direktur! 


Kenapa saya berkata begitu?



Pertama, pekerjaan di loket tol itu bukanlah pekerjaan yang menuntut kompetensi tinggi dan langka dimiliki orang Indonesia. Ada jutaan rakyat Indonesia yang siap menggantikan mereka setiap saat, boss! Kalau mereka tidak perform ya copot dan gantikan dengan rakyat lain yang lebih sigap dan rindu pekerjaan.


Kedua, Sang direktur ini lupa bahwa budaya bisa dirubah melalui sistem yang tegas, konsisten dan powerful. Anda punya power sebagai direktur, buat sistem (aturan + kebijakan) dan lakukan dengan tegas. Brebes! eh beres!


Jadi kalau ente bilang itu sulit, pensiun saja anda dari direktur operasional, eh keceplosan (jabatannya kesebut)!


Nah...
Ngamuknya sang menteri ini patut dicontoh oleh para menteri yang lain atau para petinggi negeri ini. Lho!?? 


Lha iya, kalau bukan para petinggi yang ngamuk pasti tidak akan digubris oleh para pengelola yang bersangkutan. Kita cuma bisa menelan ludah menahan gusar melihat begitu banyaknya hal-hal tak becus terjadi di sekeliling kita tapi dibiarkan berjalan terus. Mau contoh?


Para pengemis dan anak-anak jalanan berkeliaran di perempatan jalan, dan menteri sosial diam membuta mata. Pedagang kaki lima tidak menyisakan sejengkal tanah untuk pejalan kaki dan menteri (PU atau Perhubungan?) diam saja kura-kura dalam mobil, eh dalam perahu! Dan sejuta contoh lain di segala bidang kehidupan kita.


Ayo para menteri, MENGAMUKLAH! 
Jangan cuma bisa nongkrong di kantor pura-pura tidak tahu kebobobrokan di wilayah tugas anda. Jangan biarkan rakyat yang ngamuk, nanti anarki jadinya.

Recent Comments