AKu Benci, Kenapa Tidak?

Aku dilahirkan di Indonesia, dari kedua orangtuaku yang seratus persen berdarah Indonesia. Karena kedua orang tuaku itu berasal dari dua daerah di Indonesia yang wilayahnya berbeda, malah berlainan kawasan, aku tidak bisa mengklaim diriku berasal dari daerah mana. Dan karena itu aku bisa mengklaim diriku sebagai orang Indonesia,warga Nusantara, sesuangguhnya (by blood and origin). Justru karena dilahirkan sebagai orang Indonesia itulah aku tidak bisa lari dari kenyataan bahwa aku ini Orang Indonesia. Darahku jelas Indonesia dan itu takkan bisa dihapus,(mungkin bisa ditransfusi ganti habis dengan darah orang asing kali, ya?) meski aku tinggal di ujung langit sekalipun! AKu tidak bisa lari dari kenyataan itu, dan tak pula mengutuki kodrat kenapa mesti dilahirkan di tanah negeri ini.

Tetapi, ternyata negeri yang kutinggali ini sungguh sangat menyedihkan! Sangat memprihatinkan! Sangat, ...ah acak kadut, kacau-balau, pabalieut, amburadullah! Anehnya anak-anak bangsa ini sering membanggakannya sebagai negeri sebagai negeri surgawi yang kaya raya, gemah ripah loh jinawi...., tetapi sambil meringis menahan rasa lapar karena sulit bisa makan nasi meskipun nasi aking, juga sambil menahan rasa sakit yang tak tersentuh obat, atau menahan rasa sedih tertindas dan rasa pilu diinjak-injak haknya.

Cek..cek..cek, Gilanya lagi,kita malah sering ikut berbuat buruk seperti perlakuan yang kita terima demi alasan sekedar mempertahankan sepotong nyawa. Padahal tidak sedikit yang memunyai motif sebenarnya yaitu demi sesuap nasi dan 5 buah mercy.

Aku bosan, atau malah sungguh benci jadi orang Indonesia yang hanya bisa melihat semua itu tanpa bisa berbuat sesuatu. Aku benci hanya bisa melihat semua itu terjadi begitu saja berlalu-lalang di depan mata, setiap hari, setiap saat bahkan setiap detik kalau rajin baca koran dan nonton tv. Begitu banyak kenistaan yang kita ciptakan sendiri sambil mendendangkan keagungan masa lalu yang tinggal sejarah, seakan kemuliaan itu masih melekat dalam budaya dan kehidupan kita.

Kita bukan bergerak maju seperti bagian dunia yang lain, tetapi hanya berjalan di tempat kalau tak mau disebut malah mundur. Ketika orang lain sudah menggunakan pola pikir universal di era informasi dunia maya, banyak diantara kita yang malah kena virus pola berpikhir abad pertengahan, yang terkotak-kotak, percaya takhyul, atau menebar rasa curiga sehingga tak sudi bergandebfab tangan bekerjasama dengan penghuni dunia yang beragam.

Aku tahu, aku tak bisa berbuat apa-apa sendirian. Tetapi aku yakin kita bisa berbuat sesuatu yang berbeda, yang bermanfaat dan baik bagi bangsa ini. Tapi apa... ya?

Anda juga merasa begitu? Lalu, gimana dong?
So what should we do, my friend?


Kalau anda punya gagasan, pikiran gila sekalipun, silakan sampaikan komentar anda disini. Mungkin ada sesuatu yang bisa kita lakukan!

2 komentar:

Andi Dobleh mengatakan...

wah susah juga yah kalo kita mau ngelakuin sesuatu bermula dari benci, karena biasanya kalo awalnya benci akhirnya malah ngerusak.

mungkin lebih baik kalau kita mulai dari Cinta, lalu kita do something biar cinta itu menjadi bangga.

aku sendiri Cinta ama Indonesia dan segala kebaikan dan juga keburukannya.

apa yang aku lakuin? Aku lagi mulai nata diri sendiri, kalo pengen nata bangsa kudu mulai dari diri sendiri.
Nata kayak gimana? yah mulai dari nyebrang di zebra cross or jembatan penyeberangan. Nyetir mobil and motor naatin peraturan. Belajar soal Indonesia.

BEDUL Andraldri, mengatakan...

Wah mas Andi sungguh bijak. Aku juga cinta sama Indonesia, cuma kesel banget rasanya nggak bisa ngebantu memperbaikinya sendirian.

Kalo mas Andi suka mentaati aturan, yok gabung di Gemahira atau Gerakan Peduli aturan. klik aja disini http://gemahira.blogspot.com

salam Sobat.