Dinistakan oleh Bangsa Sendiri (lanjutan)

Kutipan dari tulisan sebelumnya:
Ok, sekarang kita simak bagaimana sikap dan perlakuan kita terhadap sang Garuda yang merentangkan dadanya untuk menunjukkan nilai mulia Pancasila sebagai dasar negara, sebagai panduan hidup warganya. Ia seakan menegaskan "Inilah dadaku! Di dalam dada ini membara nilai-nilaiku! Jika tidak sesuai dengan nilai itu aku akan katakan dengan tegas 'TIDAK!'"
Mari kita bertaruh potong ...kuku saja ah.
Tidak ada satupun diantara kita yang setiap hari memulai harinya dengan berpikir "Hari ini saya akan menerapkan kelima sila itu"!
Kalau ada diantara anda yang melakukan itu, segera kirim komentar di posting ini supaya saya segera memotong kuku saya yang memang sudah panjang dan hitam ini.
(Baca posting sebelumnya)

Ini lanjutannya...continued....tutuge...salanjutna...:

Lihatlah gambar bintang emas di tengah perisai itu, yang melambangkan Sila Pertama: 'Ketuhanan Yang Maha Esa'. Keberadaannya yang ditengah-tengah lambang yang lain itu jelas menyiratkan dan menegaskan bahwa Ketuhanan adalah dasar dari segala perilaku hidup bangsa Indonesia. Tetapi coba tengoklah diluar sana! (anda yg masih pakai kolor sambil membaca ini jangan lupa pakai celana dulu sebelum keluar menengok..ya?) Kita bisa melihat begitu banyak rumah ibadat dibangun bahkan hampir di setiap sudut kampung, begitu banyak umat yang datang beribadah pada saatnya namun begitu banyak pula korupsi di setiap relung kehidupan. Ironis bukan!!?? Ataukah kita berpikir itu sebagai penyeimbang alias "ibadat oke maksiat jalan terus"?
Weleeh...weleeh!
(Padahal semua jaksa dan hakim akan menuntut atau menjatuhkan vonis hukuman lebih berat kepada orang yang sudah tahu tapi melakukan pelanggaran, dari pada orang yang melakukan pelanggaran tapi tidak tahu. Lha, ini sudah rajin beribadah, dus sudah tahu, malah maksiat jalan terus. Hakim yang DIATAS sana tentu akan mengganjar hukuman yg lebih berat, bukan impas. Enak saja!)

Perilaku 'anti Tuhan' dengan perbuatan jahat menghalalkan cara demi meraup keuntungan tidak halal, merugikan rakyat kecil yang selalu memnderita, seakan menjadi perlombaan setiap hari. Ketuhanan yang maha esa seakan telah berubah menjadi 'Keuangan' yang maha esa.

Lalu lihat gambar rantai sebagai lambang sila ke : Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. Di luar sana begitu banyak perilaku pelanggaran hak asasi manusia baik terhadap orang dewasa maupun terhadap anak-anak. Kasus pembunuhan Munir begitu gamblang di depan mata. Kalau tokoh seperti Munir saja tidak terselesaikan masalahnya, jangan ditanya berapa banyak pelanggaran hak asasi yang menimpa rakyat kecil. Kasus penghalangan warga lain bergiat, hampir setiap hari dapat dibaca di surat kabar. Ada sekolah yang dipagari tembok akses jalan masuknya, ada yang dilarang beribadat sesuai kepercayaannya yang dilindungi oleh undang-undang tetapi negara membiarkannya dan ada banyak lagi... Rantai itu seperti sudah tidak mengait antara anak bangsa satu dengan yang lain. Bahkan mungkin sudah menjadi rantai usang yang putus kaitannya disana-sini.

Lalu Pohon Beringin, lambang persatuan Indonesia. Kini setiap daerah dan warganya menonjolkan kedaerahannya sebagai pertanda beda, pertanda aku lain dengan kamu, pertanda kau bukan bagian kami. Rasa satu atau ikatan kita, sebagai Indonesia sudah mulai luntur. Setiap Pilkada selalu mensyaratkan putra daerah, seakan daerah itu bukan Indonesia. Tampaknya pohon beringinitu sudah meranggas dan tak mampu memberi keteduhan bagi para penghuninya. Dan kita sendiri pula yang telah membuat dedaunannya mengering.

Selanjutnya gambar kepala banteng lambang sila keempat, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaaan dalam permusyawaratan/ perwakilan. Mungki karena terinspirasi oleh gambar si banteng yang siap menyeruduk, kita sekarang juga terbiasa siap menyeruduk setiap ada perbedaan pendapat. Kita merasa tidak memerlukan pendapat orang lain untuk menelorkan solusi bagi kehidupan bersama tetapi hanya mementingkan cara yang menguntungkan pihak sendiri. Bahkan anggota DPR yang (sebenarnya tidak) terhormat itu mempertontonkan dengan jelas azas tidak mau musyawarah itu demi kepentingan golongannya sendiri dengan berdalih demi untuk rakyat. Rakyat yang mana, entah... Tak heran bila rakyatpun menirunya, menyiapkan tanduk yang runcing bila ada yang tidak sepaham. 'Mereka bukan kaum kami' atau argumentasi 'pokoknya' menjadi senjata andalan.

Dan terakhir, padi dan kapas lambang Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Yang ini tak perlu banyak diceritakan, karena andapun tahu jika rakyat semakin bertambah miskin. harga-harga semakin mahal hingga banyak yang terpaksa makan nasi aking. Tetapi dilain sisi yang kaya semakin merajalela menumpuk kekayaan mengeruk segala isi bumi nusantara hingga uangnya tidak berseri saking banyaknya.

Semua itu menunjukkan lambang negara yang rombeng terhinakan oleh ulah kita sendiri. Bangsa ini tampaknya hanya bisa mengambil, bukan menciptakan atau menghasilkan pertambahan yang membuatnya menjadi makmur. Justru sekarang semakin miskin!

Tidak ada komentar: