Mentalitas 'Partner in Crime' ala Indonesia

Mentalitas Partner in Crime bisa diartikan sebagai sikap batin yang berkecenderungan berkawan dengan perbuatan jahat atau perbuatan yang merugikan orang lain. Sikap batin ini tidak lantas berarti bahwa yang bersangkutan telah melakukan tindakan melanggar hukum, tetapi secara langsung maupun tidak telah membiarkan tindak kejahatan berlangsung. Termasuk didalamnya adalah bersimpati kepada pelaku kejahatan, memaafkan kejahatan berlangsung akibat sistem yang longgar, dan membela kelompok mayoritas pendukung sikap atau pandangan tidak adil atas nama solidaritas, integritas dan komitmen terhadap kelompok.

Meskipun tidak melakukan perbuatan jahat secara langsung, mentalitas Partner in Crime sangat permisif terhadap perbuatan jahat yang telah menjadi kebiasaan di lingkungan masyarakat, dan tentu saja pada gilirannya akan dengan mudah berubah menjadi pelaku langsung dari tindakan kejahatan walau sering di bungkus dalam kemasan ‘semua orang juga berbuat begitu’.

Banyak ungkapan atau istilah-istilah yang berkembang di tengah masyarakat seperti '(profesi tertentu) Juga Manusia’, ‘Peraturan Dibuat Untuk Dilanggar’ dan lain sebagainya, menunjukkan bahwa sadar atau tidak kita ternyata sangat permisif terhadap perbuatan tidak terpuji bahkan yang menjurus kepada pelanggaran hukum. Sadar ataupun tidak, kita telah memakai sistem nilai yang berkawan dengan kejahatan di dalam kehidupan kita sehari-hari.

Aku sungguh benci, ternyata perjalanan panjang hidup yang saya geluti selama ini berujung pada sebuah kesadaran bahwa ternyata saya adalah seorang penjahat.

2 komentar:

Anonim mengatakan...

ah yg bener.....im ex indonesian but edaaan....gues who i'm

BEDUL Andraldri, mengatakan...

from your commenting style i think you are a woman, age 40s and live in north aussie, right?