Makhluk Mutan Dari Khatulistiwa


Species: MAKHMUT DARKHATUL

Tahun 2045, dunia heboh. Para ahli dari berbagai Negara maju dikerahkan oleh PBB secara gencar meneliti sebuah fenomena aneh. Pasalnya, dibelahan bumi seputar khatulistiwa telah muncul kelompok-kelompok makhluk yang berasal dari manusia dan dilahirkan oleh manusia tetapi sulit dikatagorikan sebagai manusia baik secara fisik maupun perilaku. Para ahli genetika dibuat bingung dan bengong karena secara biologis mereka sulit digolongkan ke dalam spesies tertentu yang pernah ada di muka bumi ini. Para ahli psikososial pun tak dapat menemukan jawab atas perilaku individu maupun sosial mereka. Karena itu, didorong oleh ketakutan luar biasa dari Negara-negara maju agar tidak muncul makhluk sejenis di negeri mereka, PBB memutuskan untuk melakukan penelitian luar biasa gencar dengan dana tak terbatas. Dibentuklah superteam yang terdiri dari ratusan pakar dari semua disiplin ilmu dengan dibantu subteam-subteam khusus untuk melakukan penelitian nyata secara besar-besaran. Berbagai laboratorium canggih berperangkat sangat maju dibangun. Para ahli itu saking sibuknya tidak sempat melakukan talk show, seminar atau pembahasan-pembahasan yang kadarnya sebatas wacana. Hasil konkret merupakan jawab yang ditunggu-tunggu semua pihak.

Setelah melalui bulan-bulan yang melelahkan, diperoleh hasil sementara yang dituangkan dalam dokumen tebal memuat penjelasan-penjelasan ilmiah yang rinci atas setiap keganjilan yang ditemui pada makhluk itu. Dokumen itu sangat dirahasiakan dan dikatagorikan ‘super confidential’ karena isinya sangat mengejutkan sehingga ditakutkan dapat mengguncangkan dunia. Tentu saja, dokumen yang anda baca ini berhasil didapat dengan cara yang 'misterius' (saya tak boleh memberitahu anda, takut anda menirunya).

Berikut ini digambarkan secara garis besar kesimpulannya saja.
Ternyata memang luar biasa! Betapa tidak.

Kepala
Makhluk-makhluk itu memiliki kepala berukuran kira-kira sepertiga ukuran kepala manusia normal dan didominasi oleh dua mata serta mulut yang kelewat besar. Para ahli menyimpulkan ukuran kepala yang kecil itu menyesuaikan dengan volume otak yang yang ada didalamnya. Diduga telah terjadi penyusutan volume otak karena generasi sebelumnya di wilayah khatulistiwa itu sangat jarang menggunakan otak mereka. Para nenek kakek mereka berpikiran pendek dan dangkal, serta selalu menginginkan hasil instan. Mereka juga sangat konsumtif. Yang berpikir keras adalah bangsa lain penghasil produk-produk instan. Didalam kepala itu yang tersisa hanyalah sistem pusat syaraf yang berkaitan dengan emosi. Para ahli memastikan bahwa hanya emosi yang banyak digunakan para pendahulu mereka untuk menghadapi berbagai masalah hidup. Batok kepala mereka ternyata sangat keras namun tampaknya tidak berfungsi untuk melindungi sedikit otak yang ada didalamnya. Terungkap dari penelitian hal itu merupakan manifestasi dari sifat keras kepala para pendahulu mereka.

Bola mata mereka menonjol keluar seperti mata facet capung tetapi memiliki pupil besar, serta dapat digerakkan secara sendiri-sendiri sehingga mampu melihat ke segala penjuru setiap saat. Fenomena ini dijelaskan sebagai akibat dari perilaku generasi pendahulunya yang selalu curiga dan sigap mencari-cari kesalahan orang lain bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Dulu disana memang menjadi kebiasaan di masyarakat mereka untuk menuduh sejenis hewan bertanduk sebagai tumbalnya, yakni kambing yang berwarna (bulu) hitam. Bahkan ketika terjadi bencana banjir bandang dan tanah longsor di negeri mereka pada awal tahun 2006, pemimpin mereka tidak sungkan-sungkan menjadikan Tuhan YME pencipta mereka sebagai kambing hitam. Mereka menuduhNYA telah memberi cobaan bagi bangsanya.

Mulut mereka dihiasi bibir tipis namun lebar, dengan gigi geligi besar tak beraturan serta lidah panjang yang dapat bergerak sangat lincah dan juga kuat. Mulut yang besar itu terbentuk akibat ketamakan mereka memakan apa saja. Sejarah mencatat pola pikir masyarakat pendahulu mereka yang menganggap negeri mereka bak kolam susu, dimana tongkat, kayu dan batu bisa menjadi tanaman dan uang. Jadi semuanya bisa dimakan: hutan, batu, tanah, dan apa saja. Temanpun tidak terkecuali.

Gigi yang besar dan menyeramkan mengungkapkan juga sifat mereka yang lebih suka unjuk gigi daripada unjuk kerja. Kekuatan dan kekuasaan digunakan sebagai senjata untuk menakut-nakuti lawan mereka. Dan lidah mereka sering terlihat digunakan untuk menangkis maupun menyerang, semacam senjata andalan mereka. Lidah itu ketika tidak digunakan untuk bersuara, senantiasa mengeluarkan liur yang menetes-netes.  Lidah mereka yang bergerak lincah namun kuat merupakan bentuk adaptasi atas kegemaran mereka bersilat lidah. Para nenek kakek mereka sangat gemar berbicara omong kosong atau membual panjang lebar daripada bertindak secara nyata. Penelitian mengungkapkan bahkan idelogi mereka yang terdiri atas 5 butir itu tak henti-hentinya ditelaah, dirinci panjang lebar, diseminarkan, dibahas, diulas dan dijejalkan sejak sekolah dasar hingga menjadi pejabat tinggi, namun tidak satupun dari kelima butir itu yang dijalankan dengan benar. Yang tampak justru mereka menggunakan ideologi lain dengan butir tunggal yakni ‘ Keuangan Yang Maha Esa’.

Diatas bibir bertumbuh bulu seperti kumis yang sangat tebal dan rapat tetapi sebenarnya adalah bulu hidung yang menutupi lubang hidung mereka yang berbentuk lubang-lubang kecil menempati area sampai dibawah mata. Tiada batang hidung tampak disana. Ini adalah bentuk adaptasi terhadap polusi udara yang melebihi ambang batas bagi manusia normal yang menjadi bagian keseharian para kakek nenek mereka beraktivitas. Juga berfungsi sebagai penyaring berbagai virus penyakit yang datang silih berganti, seperti flu burung. Penyebab polusi itu tiada lain karena sikap tak peduli mereka terhadap kepentingan orang lain, tidak peduli pada aturan dan ketertiban bersama, serta mentalitas takut tidak kebagian.

Dalam berlalulintas tampak nyata mereka berprinsip win-lose atau bahkan lose-lose : ‘Kalau saya tidak bisa menerobos, biarlah kita buat macet sekalian!’. Pendek kata para orangtua mereka mengidap ‘scarcity mentality’ alias bermental kere, yakni mentalitas yang memandang dunia ini penuh kekurangan sehingga agar kebagian orang harus merebutnya terlebih dahulu. Sikap mental seperti itu tampak jelas dari catatan sejarah bahwa mereka tidak bisa mengantri dan tidak mempedulikan rambu-rambu lalulintas sehingga jalanan macet dimana-mana, serta saling serobot (termasuk juga menyerobot hak orang lain). Semua aturan dilanggar, dan gilanya mereka memiliki pameo ‘aturan dibuat untuk dilanggar’. Mungkin hanya tersisa satu aturan yang masih dipatuhi yakni memasuki masjid tempat ibadah harus melepaskan alas kaki. Alhasil dunia mereka semrawut sekali. Tanah, air dan udaranya penuh polusi, sebanyak polusi yang ada di hati dan otak mereka.

Daun telinga makhluk itu juga tidak kalah anehnya. Bentuknya kecil, tidak mengembang keluar tetapi menekuk menutupi lubang telinga. Hasil kajian mengungkapkan penyebabnya tak lain karena telinga para pendahulunya praktis tidak pernah berfungsi untuk mendengar. Mereka lebih memilih banyak bicara untuk meyakinkan pendapat sendiri daripada mencoba mendengarkan untuk memahami persepsi orang lain. Mereka bahkan berusaha menutup telinga mereka dan menipu diri sebagai yang paling benar, paling baik, paling sempurna. Sikapnya dogmatis, kaku, serta tidak toleran meskipun sebagian besar penghuni dunia mengakui universalitas dan keberagaman sebagai karunia dari Sang Pencipta. Pada beberapa kelompok, daun telinga mereka agak lebih besar dan tebal serta menutup lebih rapat lubang telinga karena dilengkapi semacam perekat seperti velcro. Diduga kuat, kelompok ini berasal dari keturunan para petinggi masyarakat entah itu eksekutif, yudikatif ataupun legislatif. Konon, mereka-mereka ini bukan hanya tidak mau mendengar jeritan penderitaan rakyat tetapi justru merekalah pencipta kesengsaraan itu melalui kekuasaan dan ke(tidak)bijaksanaan publik yang mereka tetapkan. Mereka hanya membuka telinganya bila ada bisikan-bisikan yang menguntungkan diri dan kelompoknya. Pada kelompok legislatif, mereka memang mempunyai forum dengar pendapat yang mereka sebut ‘hearing’, bukan ‘listening’. Meski terjemahannya sama namun kedua kata dari bahasa Inggris itu memiliki konotasi yang jauh berbeda. Tentu saja jangan diharapkan mereka menjadi ‘listener’, orang yang mendengarkan dengan seksama, karena seturut pengertian kata hearing, mereka toh tidak perlu harus memperhatikan jeritan rakyat dalam forum itu.

Tubuh
Sekarang soal tubuh makhluk itu.
Suhu tubuh mereka sangat tinggi, sekitar 39 – 39,5 °C. Diduga kuat ini merupakan adaptasi terhadap penyakit demam berdarah yang tak kunjung dapat diberantas. Juga adaptasi terhadap berbagai demam yang menjadi pola hidup angin-anginan mereka. Ada demam anti korupsi, demam revisi undang-undang, demam pilkada, demam menjaga wilayah perbatasan, demam antisipasi bencana, demam goyang inul, demam proyek A,B,C dan banyak lagi. Singkatnya AATA, alias angat-angat tahi ayam. Semuanya dikerjakan secara tidak konsisten, parsial dan setengah-setengah. Mereka tidak pernah berpikir dan bertindak secara komprehensif dan berkesadaran ‘sense of clossure’ atau mengerjakan secara tuntas..tas..tas. Banyak proyek fisik yang asal jadi, tampak luarnya oke, dan tidak mempedulikan akibat lanjutan dan sampingannya. Sebuah jalan tol yang menghubungkan ibukota dan kota lain dibuat asal jadi, adalah contoh aktual konsep hidup masyarakat ini yang demam mengenang konferensi Asia Afrika. Kota tempat konfererensi dibuat rapi, tertib dan bersih dari sampah hanya saat demam itu melanda. Kini mereka telah sibuk dengan demam yang lain, membiarkan sampah menumpuk akibat konferensi itu. Memang, segalanya dikerjakan dengan sikap mental ‘proyek’, hanya demi menghabiskan anggaran.

Tubuh mereka terdiri atas dada kecil yang agak membusung kedepan, perut buncit menggelembung, dua tangan yang sangat panjang serta dua kaki yang tampak lemah dan sangat kecil. Dada yang membusung ke depan itu disebabkan karena bangsa mereka gemar menyombongkan diri, merasa hebat serta gila hormat dan pujian. Nenek kakek mereka selalu mengatakan mereka bangsa yang besar, berbudaya adiluhung, negeri gemah ripah loh jinawi plus tata titi tentrem, tetapi nyatanya mereka hidup dalam kepapaan (kecuali para petingginya tentu) dan kenistaan akhlak. Mereka hanya besar dalam kuantitas namun minim prestasi, kaya sumberdaya alam namun miskin nilai tambah. Berbudi agung dalam wacana dan sejarah masa lalu namun barbarik dalam tingkah dan perilaku. Mereka sangat sibuk meyakinkan bangsa lain atas kehebatan mereka untuk menutupi kelemahannya hanya dengan kata-kata, bukan dengan tindakan positif, dan menuntut pengakuan untuk itu. Bila ada pujian dilontarkan bangsa lain meski sebenarnya hanya sekadar basa basi dalam diplomasi pergaulan antar bangsa, mereka menjadi mabuk kepayang dan menggembar-gemborkan lewat media masa seakan memang demikian faktanya.

Perut yang besar membuncit juga tidak kalah mengherankan, karena hampir seluruh rongga perut dimuati oleh lambung. Organ hati mereka sangat kecil mengkerut akibat makanan yang dikonsumsi semuanya mengandung racun seperti formalin, rodamin B atau pestisida dll. Pada kelompok yang bertutup telinga rapat bahkan tidak ditemui hati sama sekali, karena pendahulu mereka memang tidak memerlukannya. Lambung yang besar digunakan untuk menampung secepatnya sebanyak mungkin segala benda yang dimakan. Anehnya lagi, usus halus mereka begitu pendek , kira-kira 50 cm,- tidak sebagaimana manusia normal yang bisa mencapai 6 m -, dan langsung menyambung ke usus besar yang juga pendek dan berakhir di lubang pembuangan yang senantiasa terbuka. Juga tidak didapati beberapa enzim dan cairan pencernaan semisal ptialin, getah lambung, cairan empedu dan sejenisnya. Terungkap penyebab usus halus yang pendek itu karena pendahulu mereka tidak pernah hidup secara hemat serta efisien menggunakan secara maksimal sumberdaya yang dimiliki. Sedang untuk usus besar yang juga pendek, itu karena mereka tidak peduli untuk mendaur ulang sisa-sisa sumberdaya yang sudah digunakan. Adapun anus yang selalu terbuka ( tidak ada rectum, bagian usus besar untuk menampung kotoran yang siap dibuang) itu karena bangsa ini tidak pernah dapat menampung dan membuang sampah maupun limbah pada tempatnya. Mereka seenaknya membuang begitu saja sampah di jalan, di saluran air, di pemukiman penduduk atau taman-taman. Mereka menggelontorkan limbah di sawah, di sungai, di danau, di laut dan juga di udara.

Makhluk ini banyak menggunakan tangannya untuk beraktivitas sehingga bila berdiri tampak kedua kaki kecil mereka seperti menggantung lunglai di perut. Mereka menyangga tubuhnya dengan kedua tangan yang panjang dan kekar. Telapak tangan mereka selalu dalam posisi menengadah keatas ketika tidak beraktivitas. Hasil penelitian menjelaskan penyebabnya karena nenek kakek mereka ditempa agar bermental pengemis dan dependen (bergantung pada yang lain). Setiap bulan rakyat diberikan bantuan sejumlah uang tunai secara langsung (BTL) dan cuma-cuma yang tak seberapa besarnya namun cukup untuk membuat mereka berseteru antar sesama karena ada yang merasa diperlakukan tidak adil. Para petingginya juga setali tiga uang. Mereka ,terutama yang duduk sebagai wakil rakyat, menengadahkan tangan lebih tinggi dan berteriak lebih lantang berperisaikan penderitaan rakyat untuk menaikkan pendapatan mereka ratusan kali lebih besar daripada yang diterima rakyat. Mereka juga menengadahkan tangan tetapi anehnya dengan dada membusung kala meminta-minta bantuan dari negara lain. Betapa tidak, mereka datang ke pertemuan dengan berkendaraan mewah limousine sedangkan para pemimpin negara yang akan memberi bantuan datang hanya dengan berkendaraan umum! Mungkin moto mereka ‘Biar Sombong Asal Miskin’. Bingung kan?

Akan halnya tangan yang panjang dan kekar itu karena dengan mental kere yang melekat dalam jiwa mereka, tidak segan-segan mereka bercepat tangan dan berpanjang tangan, terutama korupsi. Negeri mereka bahkan mendapat peringkat ‘terhormat’ sebagai 5 besar negara terkorup di dunia. Ironisnya, mereka selalu membanggakan diri sebagai bangsa yang religius hanya karena tempat ibadah terdapat disetiap sudut pemukiman dan ritual-ritual agama gencar diselenggarakan. Mungkin sebaiknya di depan kata religius diberi kata ‘tampaknya’.

Dan kakinya yang lemah seperti menggantung itu tiada lain akibat penyakit lumpuh layu yang tiba-tiba merebak ganas meskipun sebelumnya dinyatakan bebas polio. Padahal menurut para ahli, penyakit itu pasti telah ada jauh sebelum dimunculkan oleh media. Kaki yang lemah itu juga karena mereka jarang dan banyak juga yang malas menggunakannya. Dulu, anak-anak mereka tidak dapat berlari dan berolahraga karena tanah lapang sulit ditemui, tergusur oleh bangunan pemukiman, supermall dan pabrik. Halaman sekolahpun ditutupi semen atau konblok agar bisa disewakan kepada para penjual makanan beracun yang menggunakan zat pewarna tekstil supaya tampak lebih menarik. Orang dewasa enggan menggunakan transportasi umum karena mesti berjalan beberapa meter, tidak bisa berhenti langsung di depan pintu tempat tujuan mereka. Alasan tidak aman terlihat naif karena kendaraan pribadipun tak lepas dari bahaya pencoleng spion dan kapak merah.

Perilaku Sosial Makhmut Darkhatul
Bagaimanakah dengan perilaku sosial makhluk itu?
Makhluk itu hidup berkelompok, ada kelompok yang besar hingga seribuan anggotanya dan ada yang kecil hanya terdiri atas puluhan anggota. Tetapi banyak juga yang hidup secara soliter. Besarnya kelompok tidak pernah tetap, bahkan cenderung mengecil. Mereka tinggal di puing-puing kota-kota, bekas desa-desa dan daerah-daerah yang dulunya hutan lebat namun kini telah berwujud tanah-tanah meranggas yang tampak porak poranda.

Mereka sangat pencuriga. Bila ada diantaranya yang berbeda sedikit meski dari segi fisik saja, mereka akan mengeluarkannya dari kaum mereka. Apalagi soal tingkah laku dan pendirian. Semuanya harus seragam, seia sekata. Perbedaan pandangan dianggap sebagai musuh yang harus dienyahkan. Konon, nenek kakek mereka selalu dijejali materi pelajaran yang seragam, dengan jawaban tunggal, sama persis hingga kata-kata dan titik komanya.

Mereka juga sangat penakut untuk menentukan pilihan. Mereka berani memilih jika bersama-sama, memilih satu pilihan. Itulah alasan satu-satunya mereka tetap berkelompok, karena setelah pilihan dijatuhkan mereka akan saling berebut, saling serobot mendahului yang lain. Tidak ada kata kerjasama untuk menciptakan sinergi dalam kamus mereka. Rupanya hal ini karena para nenek kakek mereka tidak dilatih dan diberi kesempatan untuk memilih. Segala sesuatunya dipilihkan oleh penguasa dan pembuat undang-undang. Rakyat dianggap anak kecil yang bodoh dan tidak layak dipercaya dapat memilih yang baik atau buruk, benar atau salah. Oleh karena itu semuanya harus diatur dan dipagari tidak hanya sebatas area publik tetapi merangsek jauh masuk ke ruang pribadi dan hak asasi individu. Seakan orang yang saleh, mereka menentukan mana yang porno atau tidak sementara mereka sendiri berbini segudang (Bini = bukan istri namun intim). Berlaku sebagai tuhan, mereka menetapkan dimana dan bagaimana orang mesti beribadah. Mereka selalu memilih untuk memagari ketimbang mengajari.

Alhasil rakyat dibuat tetap bodoh, tidak dewasa , bergantung, serta kehilangan harkatnya sebagai manusia karena tidak dilatih menggunakan akal dan budi mereka untuk membuat pilihan. Ironisnya, lagi-lagi, kebodohan itu dimanfaatkan secara maksimal demi keuntungan pribadi atau kelompok dengan memberikan kebebasan bagi rakyat dalam memilih secara langsung para petinggi dan wakil-wakil rakyat. Dengan sedikit petunjuk, isapan jempol, dan uang, rakyat dituntun dan diarahkan bagai kerbau dicocok hidung untuk mencoblos. Pada hakekatnya mereka tidak membuat pilihan pada pemilihan umum atau derivasinya seperti pilkada langsung itu.

Padahal orangtua yang baik akan melatih anaknya untuk membuat pilihan dengan menunjukkan semua alternatif yang ada berikut informasi sebanyak-banyaknya tentang kelebihan dan kekurangan yang ada pada masing-masing alternatif itu. Tetapi pemerintah nenek kakek makhluk itu tidak demikian. Mereka bertindak sebagai pemain sehingga hanya menunjukkan kehebatan kelompoknya dan bila memungkinkan membesar-besarkan kejelekan pesaing mereka. Dan didalam kelompoknya mereka saling bertengkar berebut secara kasar siapa yang pertama, yang lebih dulu dan didahulukan. Meski sudah keriput, beruban, berpendidikan tinggi dan berpangkat, didalam jiwa mereka tetap melekat mentalitas balita 2 tahun yang selalu mengatakan : “saya dulu!”. Memang lucu dan menggemaskan melihat tingkah balita 2 tahun menonjolkan keakuannya, tetapi tidak lucu bahkan menyebalkan bagi orang yang sudah akil balik dan setengah umur berlaku seperti itu.

Penelitian para ahli PBB itu masih terus dilakukan karena masih banyak hal yang belum terungkap dari fenomena biologis, perilaku sosial maupun sikap jiwani makhluk-makhluk itu. Kian hari jumlah mereka kian banyak dan habitat mereka semakin porak poranda, gersang dan mengenaskan. Tidak heran, karena dijaman para nenek kakek mereka dulu, seorang ulama telah mengatakan bahwa keterpurukan bangsa itu sudah sempurna. Hukum tidak mencapai keadilan, ekonomi tidak membawa kesejahteraan, pendidikan tidak mencapai karakter, eksploitasi dan eksplorasi alam tidak sampai pada kapabilitas dan kompetensi, budaya tidak menghasilkan etika, dan agama tidak lagi melahirkan rahmat. Moral kebangsaan di segala bidang sudah musnah. Persoalan bangsa tidak pernah diselesaikan secara substansial, yang ada hanyalah penciptaan kesan (KOMPAS, Rabu 1 Februari 2006).

Itukah nasib penduduk di wilayah itu, yang 100 tahun yang lalu nenek kakek mereka memproklamirkan diri sebagai bangsa yang merdeka?

Aku tiba-tiba terbangun, dadaku berdegup. Segera aku menengok ke cermin dan bersyukur karena aku belum menjadi makhluk itu. Makhluk apakah gerangan itu? Baiknya kusebut saja Makhmut Darkhatul, Makhluk Mutan Dari Khatulistiwa. Anda punya usul?

Tidak ada komentar: