Bersatu Tapi Tak Bersaudara

Hampir lima tahun sudah krisis lumpur Sidoarjo tampaknya belum menunjukkan tanda-tanda peyelesaiannya. Yang saya maksudkan krisisnya, bukan semburan lumpurnya. Tampaknya memang tak akan kunjung bisa diselesaikan dan masyarakat yang menjadi korban masih harus bersedia menanggung derita lebih lama lagi.

Kenapa krisis tersebut tidak kunjung bisa diselesaikan?

Ada hal-hal mendasar yang menyangkut konsep berpikir keliru yang mengakibatkan cara penanganannyapun menjadi keliru pula:

1. Cara Pandang Pemilik Krisis (Crisis Owner)
Sejak awal dan hingga kini Pemerintah serta masyarakat banyak melihat pemilik krisis itu adalah Lapindo sehingga perusahaan konyol inilah yang harus bertanggung jawab. Hasilnya sudah jelas, rakyat Sidoarjo yang menjadi korban konyol karena dibiarkan berkelahi sendiri dengan Lapindo. Kalau saja Pemerintah cukup pintar atau punya itikad baik (tinggal pilih: kalau pintar berarti tak punya itikad baik, kalau punya itikad baik berarti tidak pintar) tentunya sejak awal sudah menetapkan sebagai pemilik krisis lumpur itu bukannya malah mengarahkan opini dengan memojokkan Lapindo sebagai pemilik krisis. Lapindo itu kan hanya penjahatnya! The culprit!

Artikel ini Cara Pandang Keliru Menangani Lumpur Sidoarjo sudah tahun 2006 direlease, menekankan cara pandang keliru tersebut agar segera diperbaiki demi menolong rakyat Sidoarjo yang menjadi korban lumpur tersebut. Jika tidak, maka tak akan selesai. Namun hingga kini cara pandang keliru tersebut masih tetap dipertahankan. Karenanya bukanlah karena kutukan dari tulisan itu kalau hingga kini krisis lumpur tersebut masih tak terselesaikan.

2. Cara pandang Negara kapling
Beberapa bulan setelah munculnya lumpur itu, saat ada wacana mengungsikan penduduk, pagi-pagi sudah ada statemen dari Pemda dan DPRD Riau (kalau tak salah) bahwa daerah itu menolak jika penduduk korban lumpur direlokasi ke sana. Lho, ini negara kesatuan apa negara kapling. Katanya NKRI, kok ada kapling. Sayangnya kita tidak tahu tanggapan Pemerintah RI atas sikap yang didasari cara pandang kaplingan picik itu.

3. Cara Pandang Jatah.
Ketika ada wacana dari anggota DPR tertentu untuk menetapkan status bencana tersebut ditingkatkan menjadi bencana nasional, segera pula muncul tanggapan kontra karena akan berakibat kepada alokasi budget yang sudah dianggarkan untuk keperluan tertentu harus dicomot dan dialokasikan ke penanganan bencana lumpur Sidoarjo. Beberapa daerah dan fraksi menolak karena tidak rela jatah anggarannya di ambil kembali untuk itu.

Lho, kita ini satu keluarga Indonesia bukan sih? Kalau satu keluarga kenapa tidak ada rasa persaudaraan dan empati kepada anggota keluarga kita yang menderita? Itukah yang namanya persatuan? Kalau ya berarti hanya berupa perkumpulan orang-orang menunggu jatah. Kita sama-sama berkumpul hanya karena ada jatah yang menjadi hak masing-masing. Weleeh..weleh!

Bukankah NKRI adalah sebuah negara yang dibangun dengan konsep kesatuan yang kekeluargaan sifatnya. Bagaimana sikap kepala keluarga jika ada seorang anaknya yang mendadak sakit?

Agar jelas kenapa ketiga hal diatas merupakan biang kerok tidak terselesaikannya krisis lumpur Sidoarjo, mari kita analogikan peristiwa itu sebagai berikut:

Ketika dalam sebuah keluarga ada seorang anak yang jatuh terluka akibat ulah kakaknya maka sebagai ayah apa yang harus anda lakukan pertama-tama? Tentunya anda akan segera menolong si anak yang sedang menderita bukannya sibuk menyalahkan si kakak yang menyebabkan kecelakaan itu, kan?

Apakah anda lalu menuntut si kakak untuk bertanggungjawab dan menyuruh si korban meminta sendiri pertanggungjawaban si kakak untuk mengobatinya sementara si korban itu sedang mengerang kesakitan minta pertolongan? Tentu saja tidak, kan? Sebagai ayah yang bertanggung-jawab anda akan segera membantu si korban dengan mengangkatnya dan membaringkannya di tempat tidur sambil menunggu bantuan medis atau ambulans untuk membawa si sakit ke rumah sakit.

Saat anda, sebagai ayahnya hendak membaringkan si korban di salah satu kamar anak anda yang lain, si pemilik kamar menolak karena kamarnya akan menjadi kotor kena darah dan dia tak hendak tidur berbagi kamar dengan adiknya. Apa yang akan anda lakukan? Apakah anda akan mengalah dan membiarkan anak yang celaka itu tetap berbaring di kamarnya yang sudah berantakan akibat kecelakaan yang terjadi itu? Tentu tidak bukan? Sebagai ayah yang bertanggung jawab anda akan bersikap tegas dan memutuskan memberikan tempat yang terbaik buat si sakit.

Setelah petugas medis datang, mereka memutuskan bahwa si korban harus segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif. Tentu saja akan berdampak pada pengeluaran biaya ekstra untuk keperluan perawatan di rumah sakit itu. Sebagai keluarga yang ekonominya pas-pasan anda memiliki sedikit tabungan yang sudah dialokasikan habis untuk keperluan setiap anak anda, diantaranya untuk Ulang Tahun si A, untuk beli sepeda motor si B dan sebagainya. Mengetahui kalau akan ada pengeluaran untuk biaya rumah sakit, saudara-saudara si sakit segera berteriak bahwa dana yang diperuntukkan buat ulang tahun atau untuk beli sepeda motor tidak boleh diutak-utik. Itu sudah jatah mereka!

Sebagai kepala keluarga apa yang anda lakukan menanggapi sikap egoistis anak-anak anda itu? Akankah anda mengalah dan mesti mencari pinjaman dulu kesana kemari (yg makan waktu dan belum tentu dapat) sementara pihak rumahsakit tak akan melakukan apa-apa sebelum ada jaminan atau deposit? (tahu sendiri kan kelakuan RS kita). Akankah anda membiarkan sikap saudara-saudaranya seperti itu, sementara si adik terkapar mengerang kesakitan?

Sayangnya, itulah yang terjadi dengan saudara-saudara kita di Sidoarjo khususnya, dan juga di tempat lan yang tertimpa musibah (kecuai tsunami Aceh karena mata dan bantuan Internasional sudah masuk lebih dulu)

Pertanyaannya menjadi sederhana:
Kita ini bersaudara dalam satu keluarga NKRI bukan sih?

Fakta yang ada adalah kita ini bersatu tetapi tidak bersaudara. Sikap kita tak pantas disebut saudara, padahal jelas sapaan kita sehari-hari kepada WNI lain adalah saudara...Anu.

Akankah NKRI akan bisa bertahan jika sikap kita seperti itu, bersatu tanpa ikatan tali persaudaraan. Sampai kapan persatuan seperti ini akan bertahan?

Jawabannya sederhana:
Sampai saatnya jatah sudah tak ada lagi yang bisa dibagikan!

Oalaaaah....!

Tidak ada komentar: